DNA dan Frekuensi

Kehidupan berlangsung dengan pola DNA dan frekuensi yang saling terhubung. Kembali pada tradiri Jawa, DNA dan frekuensi setidaknya dapat menggambarkan laki-laki sejati Jawa yang bercirikan :

  1.  Garwa: garwa atau istri menjadi representasi dari yoni atau energi dari kehidupan. Oleh karenanya dalam memilih garwa harus menyelaraskan DNA dan frekuensinya supaya dalam berumah tangga dapat bersinergi untuk sama-sama berkesadaran dan bertumbuh, bukan hanya urusan-urusan dunia yang seringkali menyempit;
  2. Turangga: turangga atau kendaraan merepresentasikan dari kemampuan untuk berdaya. Hal tersebut bisa ditandai dengan kepemilikian kendaraan untuk berpindah-pindah tempat. Pemilihan turangga juga mestinya harus memperhatikan kebutuhan dan keselarasan supaya dalam penggunaannya tidak banyak kendala;
  3. Pusaka: pusaka atau pekerjaan merepresentasikan atensi yang membetuk jati diri. Oleh karenanya dalam memilih pusaka (tosan aji) dan pekerjaan juga harus mempertimbangkan keselaraasan dari DNA dan frekuensinya. Jika sudah selaras, maka akan memudahkan untuk mencapai kesadaran dan bertumbuh dengan maksimal;
  4. Kukila: kukila atau anak merepresentasikan kesenangan, hiburan atau klangenan pemiliknya. Kukila bisa berarti burung perkutut bagi orang Jawa atau lebih khusus memiliki keturunan anak. Jika keturuan anak pasti sama DNA dan frekuensinya, namun untuk burung peliharaan harus pandai memilih yang memiliki keselarasan;
  5. Wisma: wisma atau tempat tinggal merepresentasikan tempat yang digunakan untuk tinggal beristirahat. Sedangkan tempat untuk mengumpulkan harta benda ditempatkan pada rumah yang tidak membayara sewa. Keduanya pun juga harus memperhatikan keselarasan untuk dapat tinggal dengan tenang dan tenteram.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *